Tuesday, 14 May 2013

Arti Merelakan



Arti Merelakan
Hai ^^ Ini adalah cerpen pertama yang Aku buat. Semoga buat kalian yang baca, gak kapok ya buat mampir ke sini lagi. ^^ Happy reading~
Author : Novi Mulyandari.

Pagi yang cerah kini mulai membangunkanku. Aku membuka mataku seolah terganggu oleh cahaya matahari yang meyilaukan mata. Perkenalkan namaku adalah Adrynaz cetezha quena, Aku adalah siswi kelas 3 Sma.  Aku mempunyai sahabat bernama Tiara,Amel,dan Dinar.Oh iya call me rynaz J
            Akhirnya akupun bangun dari tidurku dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, Aku pun menuju ke ruang makan untuk sarapan. ‘pagi pa,ma’ ucapku. pagi nak balas mama dan papa.  Setelah selesai sarapan papa ku  pun mengantarku ke sekolah.
            Setibanya disekolah akupun bertemu dengan Dinar, dia menghampiriku. hai naz ucapnya, hai din balasku. Akhirnya kami pun pergi ke kelas bersama, Setibanya di kelas aku melihat Raka, dia adalah laki-laki yang ku suka. Entah darimana aku bisa memiliki perasaan ini, Aku selalu nyaman saat berbicara dengannya. Aku dan dia dulu sering bertengkar, saling aran-aranan. Tapi teman-teman sering berkata hati-hati benci jadi cinta dan mungkin itu yang kurasakan saat ini. Indah sekali :) . Sebentar lagi kami akan ujian, dan kami harus banyak fokus untuk belajar.
            Hari demi hari, bahkan bulan demi bulan kini terlewati. Kini tiba ujian pertama. Hari ini aku berangkat pagi, sesampainya di sekolah, Aku berpapasan dengan Raka. Jujur, aku salah tingkah. Aku pun mempercepat jalanku agar tak dikira datang bersama. Sesampainya di kelas akupun duduk dan mengatur nafas ku yang tidak karuan.
            Singkat cerita kini sudah malam, waktunya membuka-buka buku lagi. Tiba-tiba handphone ku berdering tanda ada sms masuk.
From : Raka
To: Rynaz
            Know when my day was colored, I know when my life feels very spirit. And it’s all thanks to you. Girl, I Love you. Would you be mine? {}
Tiba-tiba jantungku bergetar. Aku tak mengerti apa arti semua ini, tiba-tiba saja aku merasa ada perasaan senang dan takut. Takut? Kenapa? Ya karena bisa saja sms itu salah kirim, dan mungkin memang salah kirim. Aku pun membalasnya.
From : Rynaz
To: Raka
            Ciee aduh buat siapa ka? :D kok salah kirim nya ke aku? :p
Setelah beberapa menit menunggu balasan tiba-tiba handphone ku berdering. Kami pun memulai percakapan di sms.
Raka : buat kamu naz J
Rynaz : hah? Kamu serius ka? *blushing*
Raka : Serius naz, kenapa ? nolak ya? Gapapa kok
J
Rynaz : Em.. So sweet kata-katanya
J but, I am sorry ka.. I would be yours J
Raka: Serius naz?
J
Rynaz: Iya ka
J
Raka : makasih naz, I Love you. Tidur sana udah malem.
J
Rynaz : sama2 ka
J iya bentar lagi, masih buka-buka buku nih,kamu juga tidur J
Raka : Iya, Have a nice dream my princess
J
Rynaz : Have a nice dream my prince
J
            Keesokan harinya akupun berangkat ke sekolah, dan pas lagi. Aku berpapasan lagi dengan Raka. Kini muka ku benar-benar merah. Aku pun masuk ke kelas. Tiba-tiba Dinar datang.
Dinar : Hei naz, kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri? :P
Rynaz : Hah? Gapapa kok naz
J
Dinar : Yaudah,bentar lagi ujian di mulai,siapin alat-alat nya yuk
J
Rynaz: yuk
J
            Pulang sekolah pun tiba, aku langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah handphone ku berdering seperti ada panggilan masuk, setelah kulihat ternyata itu adlaah Raka. Aku pun mengangkat telepon nya dan kami berbicara panjang lebar.
            Keesokan harinya kami semua pengurus ditunjuk untuk melantik adik kelasnya. Saat pramuka, aku tertawa sambil mendengarkan suara rekaman saat Raka bernyanyi.  Tiba-tiba Amel,Tiara,dan Dinar merebut handphone ku. Dan akhirnya mereka tau bahwa aku dan Raka berpacaran. Banyak suara ciee yang ku dengar, dan ternyata dengan cepat guru-guru dan teman-teman pun tau -_-
            Tak terasa, ujian telah selesai dan kami pun bersiap-siap untuk mempersiapkan perpisahan. Aku di tunjuk untuk menjadi mc di acara ini. Dan Raka di pilih untuk menjadi perwakilan dari kelas 3 yang membacakan pidato dan pemain kabaret bersama adik kelasnya Dinda yang akan menjadi pasangannya. Raka pernah bercanda padaku dengan bilang ‘jangan cemburu ya :p ‘ adeuh -_-
            Akhirnya kini kami mulai latihan untuk persiapan. Semula keadaan tenang-tenang saja, sampai akhirnya latihan kabaret pun dimulai dan semua banyak yang berbicara awas ada yang cemburu aish, aku mulai tak nyaman dan memutuskan pergi keluar ruangan itu.
            Aku tak mau tau dengan adegan yang berpegangan tangan,merayu,atau apalah. Aku juga tak ingin mendengar suara teman-teman yang bersorak tentang ku. Karena itukan namanya profesional aku juga tak ingin membuat kabaret berantakan. Memang nya aku siapa?
            Akhirnya setelah berhari-hari persiapan , Latihan terakhir pun dimulai. Jujur melihat kabaret itu hancur rasanya hatiku. Aku hanya bisa tersenyum menutupi luka hati ini yang tak terlihat.
Hari demi hari berlalu akhirnya perpisahan pun tiba. Saat aku ingin membacakan teks nya untuk mencoba-coba , tiba-tiba Dinar,Amel,dan Tiara menarik ku keluar. aduh sakit ucapku sesampainya diluar. Naz, kamu harus tau, Raka sama Dinda udah jadian ucap Dinar. Sontak aku kaget Apa? Aku sama Raka belum putus . iya kami tau, maka dari itu kita ngomong sama kamu tambah Amel. Aku pun seketika lemas . Kenapa Raka tega seperti itu padaku. Sakit rasanya, benar-benar sakit.
Besok adalah perpisahan, dan status ku bukan lagi pacar Raka, padahal diantara mulut kami berdua tak ada yang mengucapkan kata ‘putus’.  Akupun sibuk mempersiapkan pakaian yang esok akan ku kenakan. Aku tak terlalu perduli dengan nya, karena aku tau semua akan indah pada akhirnya.
Kring-Kring, suara Alarm kini membangunkanku di pagi buta ini. Akupun harus bergegas bangun untuk bersiap-siap menuju sekolah, setelah bersiap-siap Aku pun berangkat ke rumah saudara ku untuk minta bantuan make up-_- . Jika aku dibantu mama, pasti akan terlihat seperti ibu-ibu -_-
Assalamualaikum.. kak.. ucapku sambil mengetuk pintu rumah kak dian. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kak Dian pun membukakan pintunya. ada apa dek? ‘’ tanya kak Dian, Kak aku ingin meminta bantuan untuk memberi make up di wajahku ini,tapi jangan menor’’ jawabku. Kak Dian pun hanya tertawa dan mempersilahkan aku masuk kedalam.
Beberapa saat kemudian, Akhirnya kami selesai. Aku pun berpamitan dan berangkat menuju sekolah. Karena aku malu untuk ke sekolah sendiri, akhirnya akupun memutuskan untuk menjemput teman ku yang rumahnya cukup dekat denganku. Beberapa saat kemudian, akhirnya aku sampai di sana. Kurasa dia sudah siap, kami pun bersiap untuk berangkat, saat aku berpamitan dengan ibu nya teman ku, aku pun sial -_- Tiba-tiba saja ibu nya Amel memakaikan lipstick di bibirku. ‘’ah sial’’ dengusku.
Aku dan Amel pun berangkat ke sekolah dengan berpakaian kebaya dan wajah yang di make up ini. Sesampainya di jalan tiba-tiba Amel tertawa, kamu kenapa? ucapku kesal. gapapa jawab Amel. Aku pun mengambil tissue dan menghapus lipstick yang mama Amel berikan. Ah aku minta maaf tante ucapku.
            Sesampainya disana, aku hanya mengobrol sebentar dengan teman-teman, dan akhirnya akupun dipanggil oleh guru ku untuk segera naik ke panggung dan memulai acara ini. Aku pun naik ke panggung itu, setelah sampai akhirnya aku pun duduk bersama salah seorang guru ku. Akhirnya acara dimulai aku pun di bimbing oleh guru ku sambil memulai acaranya.
Beberapa waktu kemudian, entah apa yang ku rasakan. Tiba-tiba saja hati ini berdetak begitu cepat saat daftar di catatan MC tertera nama berikutnya yang akan naik ke atas panggung. Dalam catatan ini tertulis perwakilan kelas 3 SMA, dan perwakilan kelas 3 adalah Raka. Akhirnya penampilan tadi telah selesai, kini saatnya aku memanggil nama seseorang yang telah menyakitiku tanpa alasan. Karena teman-teman tau nya aku dan Raka masih pacaran, mereka pun bersorak ceria. Karena merasa risih dan kesal terhadap Raka aku pun menyuruh teman-teman diam sesaat. Akhirnya mereka diam. Saat Raka membacakan kata demi kata, aku tak kuasa memandang nya, aku memandang kebawah dan kebelakang. Sahabat ku pun tau mengapa aku bisa seperti itu.
Menit demi menit kini berlalu, Reza sahabat Raka yang sedang memvideo Raka, kini seolah jail mengarahkan camera nya ke arah ku dan Raka secara bergantian. ih Rezaaaa ucapku kesal pada Reza. Akhirnya penampilan itupun selesai. Aku kini mulai membacakan acara selanjutnya. Hingga, tiba diujung acara, yaitu kabaret. Kabaret Raka dengan Dinda yang romantis. Saat kabaret itu dimulai sampai selesai aku terus berusaha untuk tak perduli, walaupun teman-teman bersorak mengejek aku cemburu.
Kini, acara telah selesai. Semua wali murid pun pulang bersama anak-anaknya. Aku dan teman-teman pun take a picture bersama. Moment indah ini dihiasi oleh senyum kami semua. Setelah itu kami pun bubar ke rumah masing-masing.
Saat aku mengobrol dan memutuskan untuk pulang, Aku pun berjalan ke gerbang sekolah. Deggg, hatiku berdetak begitu cepat melihat sosok lelaki yang berdiri di depan gerbang menggunakan celana hitam dan baju merah, Dia adalah Raka. Aku pun memberanikan diri untuk lewat dihadapannya dan tak memperdulikan nya.
Hari demi hari kini berlalu, hubungan ku dengan Raka masih sama.  Tidak jelas. Libur panjang tiba, aku pun mulai mencari sekolah. Selang beberapa waktu, hari ini ku dengar Raka berangkat ke Jakarta. Dia akan meneruskan kuliah nya di UI, sedangkan aku di ITB. Aku pun mulai memberanikan diri mengirim sms kepadanya untuk mengucapkan hati-hati.
Dua bulan terlewati, kini aku sudah masuk ke ITB dan kuliah disana. Begitupula Tiara. Kami berbeda jurusan, maka dari itu sampai sekarang kami seperti jaga jarak entah karena apa, tapi kami sama sekali tidak bermusuhan. Aku dan Raka kini mulai dekat kembali, Raka sudah memiliki pacar. Tapi aku? Masih belum bisa move on.
Suatu malam, aku bersenda gurau lewat sms dengan Raka. Tiba-tiba Raka mengagetkan ku dengan kata-katanya, dia bilang Naz, pasti sekarang tambah cantik :D. entah ada apa dia bicara seperti itu, aku pun tersenyum malu. Berbulan-bulan kami masih sering smsan, sampai akhirnya kurasa Raka sibuk, dan mungkin aku mengganggunya. Lagipula siapa aku, Raka kan sudah punya pacar baru. Bahkan sudah banyak-__-
Oh iya, Aku belum sempat bercerita tentang kampus ku. Disini aku sudah punya sahabat baru, namanya Shinta, dia baik ,cantik, aku senang memiliki sahabat seperti dia.
Beberapa bulan kemudian..
Hoaaaaaaam aku mengantuk. Udara pagi kali ini membangunkanku, rasanya begitu dingin. Aku pun bergegas bersiap-siap untuk kuliah.
Singkat cerita, akhirnya aku pun bersiap berangkat kuliah. Cuaca kini hujan, aku pun bergegas ke kampus karena ada tugas kelompok hari ini dan kami harus masuk tepat waktu. Sesampainya  di kampus aku langsung bergegas ke kelas. celaka, sepertinya aku telat ucapku dalam hati.
Aku pun mengetuk pintu kelas dan meminta maaf pada dosen atas keterlambatan ku. Kami pun semua memulai tugas dari dosen hari ini perkelompok. Tidak lama setelah di mulai, dosen meninggalkan ruangan dan membiarkan kami mengerjakan tugas tanpa pengawasan. Hal seperti anak kecil pun terjadi, kelas ini tiba-tiba menjadi rusuh, bercanda dimana-dimana. Anak laki-laki sangat susah di atur. Sampai kami pun kaum hawa mencoba mengatur keamanan. Huh, bukankah itu tugas laki-laki?
Waktu terus berjalan, akhirnya tibalah jam pelajaran habis. Kami pun mengumpulkan tugas kami ke salah satu orang yang ditugaskan untuk mengantar tugas itu ke dosen kami. Tak ku sangka, suasana di kelas berantakan. Styrofoam yang dijadikan mading hancur begitu saja. argh ucapku kesal. Akhirnya akupun berinisiatif untuk membuang styrofoam itu, karena tak layak di pakai. Aku berbicara terhadap bendahara sebelum mencabuti lem yang ada di styrofoam itu di tembok. sarah, styrofoam nya dibuang aja ya? Sisanya kurang dari setengah, gak bisa dijadiin buat alas mading lagi tanyaku, iya jawabnya singkat. Kurasa itu baru persetujuan dari  kaum hawa, aku pun meminta izin pada kaum adam. Dan kebetulan disitu ada Rio. Hei, ini styrofoam nya dibuang aja ya? tanyaku pada Rio. heem jawabnya dengan anggukan kepala.
Aku pun berjalan menuju dinding, dan mulai membuka lem yang menempel di tembok dan styrofoam. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri ku dan membantuku di sebelah kiri ku. Akupun menengok ke sebelah, dan tak ku sangka ternyata itu Rio. Aku pun seketika kaget, lalu melanjutkan melepas lem nya. Di tengah-tengah waktu saat membuka lem itu, ada lem yang menempel di tanganku, aku pun mengehempaskan nya. Ternyata, Rio pun sedang menghempaskan tangan pada waktu bersamaan. Jujur, tak di sengaja. Tiba-tiba jantungku berdetak dengan ritme yang lebih cepat, aku tak mengerti apa arti semua ini.
BRUGGGG. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku, dia menabrak kami berdua, lebih tepatnya menyusup ditengah-tengah kami. Dia adalah Rafa. Woy, kalian so sweet amat, gak ngajak saya ucap Rafa. Aisshh apa maksudnya dengusku langsung meninggalkan tempat itu dan membereskan barang-barangku kedalam tas. ih, Ganggu! ucap Rio. Aku kaget mendengar itu, apa maksudnya?
Akhirnya Rafa pun berjalan keluar, dan dia berkata tuh Naz, si Rio mah mau sama kamu. Aku hanya tertawa mendengar joke Rafa. Rio pun pergi. Akhirnya, hari itu berlalu. Kami semua pun pulang ke rumah masing-masing.
Hei Naz sapa shinta sambil menepuk bahu ku. hei balasku. Kami berdua pun pulang bersama karena kebetulan rumah kami satu jurusan. Shinta sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri, dia sangat care. Aku beruntung memiliki sahabat seperti dia.
Sesampainya di rumah, aku memberi salam. Sore ini di rumah sedang tidak da siapa-siapa, entah kemana . aku pun memasuki ruangan yang sangat nyaman, yaitu kamar. Saat berbaring di kasur, tiba-tiba aku teringat kejadian tadi.
Tuhan, mengapa hatiku berdegup sangat kencang, apa arti semua ini. Ah tidak, aku kan masih suka pada Raka. Apa mungkin aku suka pada Rio. Ah mengapa semakin kencang. Aishhh.
Satu tahun kemudian
            Hei ta sapaku pada shinta, hei sapa shinta sambil tersenyum. Aku pun membalas senyuman nya, dan kami pun pergi ke kelas. Cuaca semakin terlihat mendung diluar sana, tiba-tiba hujan deras turun disertai angin dan petir. Kami semua hanya bisa menunggu hujan reda untuk pulang, karena tak ada pilihan lain. Di kelas pun semakin ricuh bercanda, seketika lampu dimatikan oleh anak lelaki yang jail.
 Aku yang merasa tidak nyaman pun berjalan ke arah tombol lampu untuk menyalakan lampunya , disini gelap. Saat aku hendak menyalakan lampu nya ternyata ada tangan seseorang juga yang akan menekan tombol itu, dan tanpa kesengajaan tangan kami bersamaan menekan tombol itu, aku yang kaget pun langsung melepaskan tangan ku, ternyata orang itu adalah Rio. Beberapa orang yang melihat kami pun bersorak untuk kami. Terlihat lucu memang :p
            Entah ada angin apa, hatiku kembali berdegup kencang.
Tuhan, apa arti semua ini suara hatiku. Akhirnya beberapa menit kemudian, hujan pun reda. Kami semua pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Aku pergi ke kampus seperti biasa. Semakin hari banyak moment yang terjadi antara Aku dan Rio, Rio pernah menggenggam tanganku saat kelompok kami berkesempatan maju ke depan. Aku semakin yakin bahwa kini, hatiku telah berpaling. Telah terjatuh, ke dalam hati seseorang. Dan dia adalah Rio.
Malam hari pun tiba, Aku di kamar hanya di temani buku diary ini, Aku pun menuliskan sesuatu.
Waktu terus berjalan, hari ini hari sabtu. Malam terasa sunyi, hanya terdengar percikan air hujan turun dari langit. Aku terdiam dalam lamunan, menelusuri cerita tentang apa yang kurasakan akhir-akhir ini. Di temani suara merdu air hujan, aku sadar bahwa benar  jikalau hati ini telah terjatuh kedalam hati Rio. Telah ku sadari, dulu aku sangat sukar untuk melupakan Raka, dia bertahan dalam hatiku begitu lama, membekas dan abadi. Aku sadar, cinta pertama pasti sulit dilupakan, tapi tak pantas di ingat. Melupakan Raka, butuh waktu sekitar beberapa tahun. Mungkin, jika Rio tidak ada aku belum bisa move on dari Raka sampai sekarang. Rio, kau mengalihkan duniaku, membuka lembaran baru hati ini, memberi setitik tinta yang akan menjadi cerita antara kau dan Aku. Tuhan, benarkah aku jatuh cinta?
            Hari terus berlalu. Pagi ini aku kembali menjalankan aktivitas ku sehari-hari. Jam 9 nanti aku ada kelas. Aku pun segera sampai di kampus.
Aku : Shinta! (panggilku sambil menepuk pundak nya)
Shinta: Hei Naz! (membalikan badannya)
Aku: Ke kelas bareng yuk (ucapku)
Shinta: yuk naz (balasnya)
            Akhirnya kami berdua pun pergi ke kelas, Semakin hari aku dan Shinta semakin dekat. Tempat duduk ku di sebelah Shinta, dan di belakang kami Rio dan Aris. Akhir-Akhir ini, Rio sering bercanda dengan Shinta. Entah kenapa aku merasa sakit, nyesek.
            Suatu malam, Aku smsan dengan shinta. Kami main Game. Suatu saat giliranku mendapat pertanyaan dari Shinta, dia bertanya padaku siapa orang yang aku suka. Aku pun ragu-ragu membalasnya karena aku malu. Akhirnya aku pun membalas nya dan menjawab nya dengan keberanianku. Aku menajwab dengan apa yang aku rasakan selama ini, dia Adalah Rio, laki-laki yang ku suka.
            Setelah malam itu berlalu, semakin hari Rio semakin dekat dengan shinta, Sahabatku. Meskipun aku merasa sakit, aku tak pernah memperlihatkan nya. Sakit, melihat mereka sekarang sedekat itu. Aku tau, aku bukan siapa-siapa Rio, tak berhak aku melarang nya.
            Suatu ketika malam-malam, aku mengajak Shinta bermain game lagi. Kali ini aku berkesempatan untuk menanyakan sesuatu pada shinta, aku pun memanfaatkan kejadian itu. Aku bertanya pada Shinta, apa orang yang pernah ia bilang padaku bahwa ia suka itu adalah Rio, dan ternyata betapa kagetnya raga ini mendengar pernyataan Shinta bahwa semua itu benar.
            Aku marah pada Shinta, bukan marah karena merasa tersaingi, tapi marah karena Shinta jujur sekarang, kenapa gak waktu itu. Waktu main game ini juga. Kenapa gak bilang, kenapa Shinta harus jujur waktu perasaanku pada Rio semakin dalam. Kenapa?
Tuhan, haruskah ku buang jauh perasaan ini? Haruskah ku berlari meninggalkan perasaan yang belum pernah ku dapatkan? Apakah ini memang sudah jalanmu? Tuhan, jika ini jalanmu bantu aku membuang perasaan ku padanya. Jangan biarkan dua orang sahabat bertengkar hanya karena satu orang laki-laki yang belum tentu menjadi jodohnya kelak. Haruskah aku menghilangkan perasaan ini,menenggelamkan semua cerita yang pernah terjadi antara kau dan aku. Aku paham betul bagaimana rasanya jatuh cinta,  Tapi bagaimana jika rasanya cinta menjatuhkan kita, menjatuhkan besarnya suatu harapan pada seseorang, membiarkan nya membekas dalam relung hati ini, dan menjadi suatu kenangan yang tak akan terlupakan. Cinta dan sahabat, dua kata yang memiliki arti indah tersendiri setiap kata itu, Cinta, mengajarkan tulusnya rasa sayang dari hati ke hati, memberi warna cerah dan gelap seperti suka dan duka dalam sebuah perjalanan cinta, sahabat adalah orang yang begitu berarti sesudah jkeluarga, sahabat akan selalu ada di samping kita, memberi sebuah perhatian besar yang jarang orang bisa mendapatkannya. Sahabat dan cinta, tentu sahabat lebih besar harganya daripada cinta terhadap orang yang belum tentu bahwa dia adalah jodoh kita kelak. Cinta, izinkan aku mengalah untuk sahabatku, izinkan sahabatku bahagia bersamanya. Izinkan aku membuka hati ini untuk orang lain. 

2 comments:

  1. this is based on true story.. am i right? :x
    many typo(s) and is collage like that? it's like school i think..
    finish.. i mean to bully you.. but... ah forget this :d keep writing and i hope your short-story will be better soon!!
    #youknowhoiam XD

    ReplyDelete
  2. haha.. without I say, you know that story is true .. cuma di tambah2 lebay nya aja, b.inggris nya misal, aku kan masih belum pinter b.inggris disitu mah udah sok make b.inggris :D
    Don't bully me please(?) wkwk
    Aaaaa thankyouuu <3 #biglove #Iknowhoyouare

    ReplyDelete