
Arti Merelakan
Hai ^^ Ini adalah cerpen pertama yang Aku buat. Semoga buat kalian yang baca, gak kapok ya buat mampir ke sini lagi. ^^ Happy reading~
Author : Novi Mulyandari.
Author : Novi Mulyandari.
Pagi
yang cerah kini mulai membangunkanku. Aku membuka mataku seolah terganggu oleh
cahaya matahari yang meyilaukan mata. Perkenalkan namaku adalah Adrynaz cetezha
quena, Aku adalah siswi kelas 3 Sma. Aku mempunyai
sahabat bernama Tiara,Amel,dan Dinar.Oh iya call me rynaz J
Akhirnya akupun bangun dari tidurku dan bersiap-siap
pergi ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, Aku pun menuju ke ruang makan
untuk sarapan. ‘pagi pa,ma’ ucapku. “pagi
nak” balas mama dan papa. Setelah selesai sarapan papa ku pun mengantarku ke sekolah.
Setibanya disekolah akupun bertemu dengan Dinar, dia
menghampiriku. “hai naz” ucapnya, “hai
din” balasku. Akhirnya kami pun pergi
ke kelas bersama, Setibanya di kelas aku melihat Raka, dia adalah laki-laki
yang ku suka. Entah darimana aku bisa memiliki perasaan ini, Aku selalu nyaman
saat berbicara dengannya. Aku dan dia dulu sering bertengkar, saling
aran-aranan. Tapi teman-teman sering berkata “hati-hati benci jadi cinta” dan
mungkin itu yang kurasakan saat ini. Indah sekali :) . Sebentar lagi kami akan
ujian, dan kami harus banyak fokus untuk belajar.
Hari demi hari, bahkan bulan demi bulan kini terlewati.
Kini tiba ujian pertama. Hari ini aku berangkat pagi, sesampainya di sekolah,
Aku berpapasan dengan Raka. Jujur, aku salah tingkah. Aku pun mempercepat
jalanku agar tak dikira datang bersama. Sesampainya di kelas akupun duduk dan
mengatur nafas ku yang tidak karuan.
Singkat cerita kini sudah malam, waktunya membuka-buka
buku lagi. Tiba-tiba handphone ku berdering tanda ada sms masuk.
From : Raka
To: Rynaz
Know when my day was colored, I know when my life feels very spirit. And it’s all thanks to you. Girl, I Love you. Would you be mine? {}
To: Rynaz
Know when my day was colored, I know when my life feels very spirit. And it’s all thanks to you. Girl, I Love you. Would you be mine? {}
Tiba-tiba jantungku
bergetar. Aku tak mengerti apa arti semua ini, tiba-tiba saja aku merasa ada
perasaan senang dan takut. Takut? Kenapa? Ya karena bisa saja sms itu salah
kirim, dan mungkin memang salah kirim. Aku pun membalasnya.
From : Rynaz
To: Raka
Ciee aduh buat siapa ka? :D kok salah kirim nya ke aku? :p
Setelah beberapa menit menunggu balasan tiba-tiba handphone ku berdering. Kami pun memulai percakapan di sms.
To: Raka
Ciee aduh buat siapa ka? :D kok salah kirim nya ke aku? :p
Setelah beberapa menit menunggu balasan tiba-tiba handphone ku berdering. Kami pun memulai percakapan di sms.
Raka : buat kamu naz J
Rynaz : hah? Kamu serius ka? *blushing*
Raka : Serius naz, kenapa ? nolak ya? Gapapa kok J
Rynaz : Em.. So sweet kata-katanya J but, I am sorry ka.. I would be yours J
Raka: Serius naz? J
Rynaz: Iya ka J
Raka : makasih naz, I Love you. Tidur sana udah malem. J
Rynaz : sama2 ka J iya bentar lagi, masih buka-buka buku nih,kamu juga tidur J
Raka : Iya, Have a nice dream my princess J
Rynaz : Have a nice dream my prince J
Rynaz : hah? Kamu serius ka? *blushing*
Raka : Serius naz, kenapa ? nolak ya? Gapapa kok J
Rynaz : Em.. So sweet kata-katanya J but, I am sorry ka.. I would be yours J
Raka: Serius naz? J
Rynaz: Iya ka J
Raka : makasih naz, I Love you. Tidur sana udah malem. J
Rynaz : sama2 ka J iya bentar lagi, masih buka-buka buku nih,kamu juga tidur J
Raka : Iya, Have a nice dream my princess J
Rynaz : Have a nice dream my prince J
Keesokan harinya akupun berangkat ke sekolah, dan pas
lagi. Aku berpapasan lagi dengan Raka. Kini muka ku benar-benar merah. Aku pun
masuk ke kelas. Tiba-tiba Dinar datang.
Dinar : Hei naz, kamu
kenapa sih senyum-senyum sendiri? :P
Rynaz : Hah? Gapapa kok naz J
Dinar : Yaudah,bentar lagi ujian di mulai,siapin alat-alat nya yuk J
Rynaz: yuk J
Pulang sekolah pun tiba, aku langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah handphone ku berdering seperti ada panggilan masuk, setelah kulihat ternyata itu adlaah Raka. Aku pun mengangkat telepon nya dan kami berbicara panjang lebar.
Rynaz : Hah? Gapapa kok naz J
Dinar : Yaudah,bentar lagi ujian di mulai,siapin alat-alat nya yuk J
Rynaz: yuk J
Pulang sekolah pun tiba, aku langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah handphone ku berdering seperti ada panggilan masuk, setelah kulihat ternyata itu adlaah Raka. Aku pun mengangkat telepon nya dan kami berbicara panjang lebar.
Keesokan harinya kami semua pengurus ditunjuk untuk
melantik adik kelasnya. Saat pramuka, aku tertawa sambil mendengarkan suara
rekaman saat Raka bernyanyi. Tiba-tiba
Amel,Tiara,dan Dinar merebut handphone ku. Dan akhirnya mereka tau bahwa aku
dan Raka berpacaran. Banyak suara ciee yang ku dengar, dan ternyata dengan
cepat guru-guru dan teman-teman pun tau -_-
Tak terasa, ujian telah selesai dan kami pun bersiap-siap
untuk mempersiapkan perpisahan. Aku di tunjuk untuk menjadi mc di acara ini.
Dan Raka di pilih untuk menjadi perwakilan dari kelas 3 yang membacakan pidato
dan pemain kabaret bersama adik kelasnya Dinda yang akan menjadi pasangannya. Raka
pernah bercanda padaku dengan bilang ‘jangan cemburu ya :p ‘ adeuh -_-
Akhirnya kini kami mulai latihan untuk persiapan. Semula
keadaan tenang-tenang saja, sampai akhirnya latihan kabaret pun dimulai dan
semua banyak yang berbicara “awas ada
yang cemburu” aish, aku mulai tak
nyaman dan memutuskan pergi keluar ruangan itu.
Aku tak mau tau dengan adegan yang berpegangan
tangan,merayu,atau apalah. Aku juga tak ingin mendengar suara teman-teman yang
bersorak tentang ku. Karena itukan namanya profesional aku juga tak ingin
membuat kabaret berantakan. Memang nya aku siapa?
Akhirnya setelah berhari-hari persiapan , Latihan
terakhir pun dimulai. Jujur melihat kabaret itu hancur rasanya hatiku. Aku
hanya bisa tersenyum menutupi luka hati ini yang tak terlihat.
Hari
demi hari berlalu akhirnya perpisahan pun tiba. Saat aku ingin membacakan teks
nya untuk mencoba-coba , tiba-tiba Dinar,Amel,dan Tiara menarik ku keluar. “aduh sakit”
ucapku sesampainya diluar. “Naz, kamu
harus tau, Raka sama Dinda udah jadian”
ucap Dinar. Sontak aku kaget “Apa? Aku
sama Raka belum putus “. “iya kami tau, maka dari itu kita ngomong sama kamu” tambah Amel. Aku pun seketika lemas . Kenapa Raka
tega seperti itu padaku. Sakit rasanya, benar-benar sakit.
Besok
adalah perpisahan, dan status ku bukan lagi pacar Raka, padahal diantara mulut
kami berdua tak ada yang mengucapkan kata ‘putus’. Akupun sibuk mempersiapkan pakaian yang esok
akan ku kenakan. Aku tak terlalu perduli dengan nya, karena aku tau semua akan
indah pada akhirnya.
Kring-Kring,
suara Alarm kini membangunkanku di pagi buta ini. Akupun harus bergegas bangun
untuk bersiap-siap menuju sekolah, setelah bersiap-siap Aku pun berangkat ke
rumah saudara ku untuk minta bantuan make up-_- . Jika aku dibantu mama, pasti
akan terlihat seperti ibu-ibu -_-
“Assalamualaikum..
kak..” ucapku sambil mengetuk pintu
rumah kak dian. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kak Dian pun
membukakan pintunya. “ada apa dek? ‘’
tanya kak Dian, “Kak aku ingin meminta
bantuan untuk memberi make up di wajahku ini,tapi jangan menor’’ jawabku. Kak
Dian pun hanya tertawa dan mempersilahkan aku masuk kedalam.
Beberapa
saat kemudian, Akhirnya kami selesai. Aku pun berpamitan dan berangkat menuju
sekolah. Karena aku malu untuk ke sekolah sendiri, akhirnya akupun memutuskan
untuk menjemput teman ku yang rumahnya cukup dekat denganku. Beberapa saat
kemudian, akhirnya aku sampai di sana. Kurasa dia sudah siap, kami pun bersiap
untuk berangkat, saat aku berpamitan dengan ibu nya teman ku, aku pun sial -_-
Tiba-tiba saja ibu nya Amel memakaikan lipstick di bibirku. ‘’ah sial’’
dengusku.
Aku
dan Amel pun berangkat ke sekolah dengan berpakaian kebaya dan wajah yang di
make up ini. Sesampainya di jalan tiba-tiba Amel tertawa, “kamu kenapa? “
ucapku kesal. “gapapa” jawab Amel. Aku pun mengambil tissue dan menghapus
lipstick yang mama Amel berikan. “Ah
aku minta maaf tante” ucapku.
Sesampainya disana, aku hanya mengobrol sebentar dengan teman-teman, dan akhirnya akupun dipanggil oleh guru ku untuk segera naik ke panggung dan memulai acara ini. Aku pun naik ke panggung itu, setelah sampai akhirnya aku pun duduk bersama salah seorang guru ku. Akhirnya acara dimulai aku pun di bimbing oleh guru ku sambil memulai acaranya.
Sesampainya disana, aku hanya mengobrol sebentar dengan teman-teman, dan akhirnya akupun dipanggil oleh guru ku untuk segera naik ke panggung dan memulai acara ini. Aku pun naik ke panggung itu, setelah sampai akhirnya aku pun duduk bersama salah seorang guru ku. Akhirnya acara dimulai aku pun di bimbing oleh guru ku sambil memulai acaranya.
Beberapa
waktu kemudian, entah apa yang ku rasakan. Tiba-tiba saja hati ini berdetak
begitu cepat saat daftar di catatan MC tertera nama berikutnya yang akan naik
ke atas panggung. Dalam catatan ini tertulis perwakilan kelas 3 SMA, dan
perwakilan kelas 3 adalah “Raka”. Akhirnya penampilan tadi telah selesai, kini
saatnya aku memanggil nama seseorang yang telah menyakitiku tanpa alasan.
Karena teman-teman tau nya aku dan Raka masih pacaran, mereka pun bersorak
ceria. Karena merasa risih dan kesal terhadap Raka aku pun menyuruh teman-teman
diam sesaat. Akhirnya mereka diam. Saat Raka membacakan kata demi kata, aku tak
kuasa memandang nya, aku memandang kebawah dan kebelakang. Sahabat ku pun tau
mengapa aku bisa seperti itu.
Menit
demi menit kini berlalu, Reza sahabat Raka yang sedang memvideo Raka, kini
seolah jail mengarahkan camera nya ke arah ku dan Raka secara bergantian. “ih Rezaaaa”
ucapku kesal pada Reza. Akhirnya penampilan itupun selesai. Aku kini mulai
membacakan acara selanjutnya. Hingga, tiba diujung acara, yaitu kabaret.
Kabaret Raka dengan Dinda yang romantis. Saat kabaret itu dimulai sampai
selesai aku terus berusaha untuk tak perduli, walaupun teman-teman bersorak
mengejek aku cemburu.
Kini,
acara telah selesai. Semua wali murid pun pulang bersama anak-anaknya. Aku dan
teman-teman pun take a picture bersama. Moment indah ini dihiasi oleh senyum
kami semua. Setelah itu kami pun bubar ke rumah masing-masing.
Saat
aku mengobrol dan memutuskan untuk pulang, Aku pun berjalan ke gerbang sekolah.
Deggg, hatiku berdetak begitu cepat melihat sosok lelaki yang berdiri di depan
gerbang menggunakan celana hitam dan baju merah, Dia adalah Raka. Aku pun
memberanikan diri untuk lewat dihadapannya dan tak memperdulikan nya.
Hari
demi hari kini berlalu, hubungan ku dengan Raka masih sama. Tidak jelas. Libur panjang tiba, aku pun
mulai mencari sekolah. Selang beberapa waktu, hari ini ku dengar Raka berangkat
ke Jakarta. Dia akan meneruskan kuliah nya di UI, sedangkan aku di ITB. Aku pun
mulai memberanikan diri mengirim sms kepadanya untuk mengucapkan hati-hati.
Dua
bulan terlewati, kini aku sudah masuk ke ITB dan kuliah disana. Begitupula
Tiara. Kami berbeda jurusan, maka dari itu sampai sekarang kami seperti jaga
jarak entah karena apa, tapi kami sama sekali tidak bermusuhan. Aku dan Raka
kini mulai dekat kembali, Raka sudah memiliki pacar. Tapi aku? Masih belum bisa
move on.
Suatu
malam, aku bersenda gurau lewat sms dengan Raka. Tiba-tiba Raka mengagetkan ku
dengan kata-katanya, dia bilang “Naz,
pasti sekarang tambah cantik :D”. entah
ada apa dia bicara seperti itu, aku pun tersenyum malu. Berbulan-bulan kami
masih sering smsan, sampai akhirnya kurasa Raka sibuk, dan mungkin aku
mengganggunya. Lagipula siapa aku, Raka kan sudah punya pacar baru. Bahkan
sudah banyak-__-
Oh
iya, Aku belum sempat bercerita tentang kampus ku. Disini aku sudah punya
sahabat baru, namanya Shinta, dia baik ,cantik, aku senang memiliki sahabat
seperti dia.
Beberapa
bulan kemudian..
“Hoaaaaaaam” aku mengantuk. Udara pagi kali ini membangunkanku,
rasanya begitu dingin. Aku pun bergegas bersiap-siap untuk kuliah.
Singkat
cerita, akhirnya aku pun bersiap berangkat kuliah. Cuaca kini hujan, aku pun
bergegas ke kampus karena ada tugas kelompok hari ini dan kami harus masuk
tepat waktu. Sesampainya di kampus aku
langsung bergegas ke kelas. “celaka,
sepertinya aku telat” ucapku dalam
hati.
Aku
pun mengetuk pintu kelas dan meminta maaf pada dosen atas keterlambatan ku.
Kami pun semua memulai tugas dari dosen hari ini perkelompok. Tidak lama
setelah di mulai, dosen meninggalkan ruangan dan membiarkan kami mengerjakan
tugas tanpa pengawasan. Hal seperti anak kecil pun terjadi, kelas ini tiba-tiba
menjadi rusuh, bercanda dimana-dimana. Anak laki-laki sangat susah di atur.
Sampai kami pun kaum hawa mencoba mengatur keamanan. Huh, bukankah itu tugas
laki-laki?
Waktu
terus berjalan, akhirnya tibalah jam pelajaran habis. Kami pun mengumpulkan
tugas kami ke salah satu orang yang ditugaskan untuk mengantar tugas itu ke
dosen kami. Tak ku sangka, suasana di kelas berantakan. Styrofoam yang
dijadikan mading hancur begitu saja. “argh” ucapku kesal. Akhirnya akupun berinisiatif untuk
membuang styrofoam itu, karena tak layak di pakai. Aku berbicara terhadap
bendahara sebelum mencabuti lem yang ada di styrofoam itu di tembok. “sarah, styrofoam nya dibuang aja ya? Sisanya kurang
dari setengah, gak bisa dijadiin buat alas mading lagi” tanyaku, “iya” jawabnya singkat. Kurasa itu baru persetujuan
dari kaum hawa, aku pun meminta izin
pada kaum adam. Dan kebetulan disitu ada Rio. “Hei, ini styrofoam nya dibuang aja ya? “ tanyaku pada Rio. “heem” jawabnya dengan anggukan kepala.
Aku
pun berjalan menuju dinding, dan mulai membuka lem yang menempel di tembok dan
styrofoam. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri ku dan membantuku di sebelah
kiri ku. Akupun menengok ke sebelah, dan tak ku sangka ternyata itu Rio. Aku
pun seketika kaget, lalu melanjutkan melepas lem nya. Di tengah-tengah waktu
saat membuka lem itu, ada lem yang menempel di tanganku, aku pun mengehempaskan
nya. Ternyata, Rio pun sedang menghempaskan tangan pada waktu bersamaan. Jujur,
tak di sengaja. Tiba-tiba jantungku berdetak dengan ritme yang lebih cepat, aku
tak mengerti apa arti semua ini.
“BRUGGGG”. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku, dia menabrak
kami berdua, lebih tepatnya menyusup ditengah-tengah kami. Dia adalah Rafa. “Woy, kalian so sweet amat, gak ngajak saya” ucap Rafa. “Aisshh
apa maksudnya” dengusku langsung meninggalkan
tempat itu dan membereskan barang-barangku kedalam tas. “ih, Ganggu! “
ucap Rio. Aku kaget mendengar itu, apa maksudnya?
Akhirnya
Rafa pun berjalan keluar, dan dia berkata “ tuh Naz, si Rio mah mau sama kamu”. Aku hanya tertawa mendengar joke Rafa. Rio pun pergi. Akhirnya, hari
itu berlalu. Kami semua pun pulang ke rumah masing-masing.
“Hei
Naz” sapa shinta sambil menepuk bahu
ku. “hei” balasku. Kami berdua pun pulang bersama karena kebetulan rumah kami
satu jurusan. Shinta sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri, dia sangat
care. Aku beruntung memiliki sahabat seperti dia.
Sesampainya
di rumah, aku memberi salam. Sore ini di rumah sedang tidak da siapa-siapa,
entah kemana . aku pun memasuki ruangan yang sangat nyaman, yaitu kamar. Saat
berbaring di kasur, tiba-tiba aku teringat kejadian tadi.
Tuhan, mengapa hatiku berdegup sangat kencang, apa
arti semua ini. Ah tidak, aku kan masih suka pada Raka. Apa mungkin aku suka
pada Rio. Ah mengapa semakin kencang. Aishhh.
Satu tahun kemudian…
“Hei ta” sapaku pada shinta, “hei” sapa shinta sambil
tersenyum. Aku pun membalas senyuman nya, dan kami pun pergi ke kelas. Cuaca
semakin terlihat mendung diluar sana, tiba-tiba hujan deras turun disertai
angin dan petir. Kami semua hanya bisa menunggu hujan reda untuk pulang, karena
tak ada pilihan lain. Di kelas pun semakin ricuh bercanda, seketika lampu
dimatikan oleh anak lelaki yang jail.
Aku yang merasa tidak nyaman pun berjalan ke
arah tombol lampu untuk menyalakan lampunya , disini gelap. Saat aku hendak
menyalakan lampu nya ternyata ada tangan seseorang juga yang akan menekan
tombol itu, dan tanpa kesengajaan tangan kami bersamaan menekan tombol itu, aku
yang kaget pun langsung melepaskan tangan ku, ternyata orang itu adalah Rio.
Beberapa orang yang melihat kami pun bersorak untuk kami. Terlihat lucu memang
:p
Entah ada angin apa, hatiku kembali berdegup kencang. “Tuhan, apa arti semua ini” suara hatiku. Akhirnya beberapa menit kemudian, hujan pun reda. Kami semua pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Aku pergi ke kampus seperti biasa. Semakin hari banyak moment yang terjadi antara Aku dan Rio, Rio pernah menggenggam tanganku saat kelompok kami berkesempatan maju ke depan. Aku semakin yakin bahwa kini, hatiku telah berpaling. Telah terjatuh, ke dalam hati seseorang. Dan dia adalah Rio.
Entah ada angin apa, hatiku kembali berdegup kencang. “Tuhan, apa arti semua ini” suara hatiku. Akhirnya beberapa menit kemudian, hujan pun reda. Kami semua pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Aku pergi ke kampus seperti biasa. Semakin hari banyak moment yang terjadi antara Aku dan Rio, Rio pernah menggenggam tanganku saat kelompok kami berkesempatan maju ke depan. Aku semakin yakin bahwa kini, hatiku telah berpaling. Telah terjatuh, ke dalam hati seseorang. Dan dia adalah Rio.
Malam
hari pun tiba, Aku di kamar hanya di temani buku diary ini, Aku pun menuliskan
sesuatu.
Waktu
terus berjalan, hari ini hari sabtu. Malam terasa sunyi, hanya terdengar
percikan air hujan turun dari langit. Aku terdiam dalam lamunan, menelusuri
cerita tentang apa yang kurasakan akhir-akhir ini. Di temani suara merdu air
hujan, aku sadar bahwa benar jikalau
hati ini telah terjatuh kedalam hati Rio. Telah ku sadari, dulu aku sangat
sukar untuk melupakan Raka, dia bertahan dalam hatiku begitu lama, membekas dan
abadi. Aku sadar, cinta pertama pasti sulit dilupakan, tapi tak pantas di
ingat. Melupakan Raka, butuh waktu sekitar beberapa tahun. Mungkin, jika Rio tidak ada
aku belum bisa move on dari Raka sampai sekarang. Rio, kau mengalihkan duniaku,
membuka lembaran baru hati ini, memberi setitik tinta yang akan menjadi cerita
antara kau dan Aku. Tuhan, benarkah aku jatuh cinta?
Hari terus berlalu. Pagi ini aku kembali menjalankan aktivitas ku
sehari-hari. Jam 9 nanti aku ada kelas. Aku pun segera sampai di kampus.
Aku : Shinta! (panggilku
sambil menepuk pundak nya)
Shinta: Hei Naz!
(membalikan badannya)
Aku: Ke kelas bareng yuk
(ucapku)
Shinta: yuk naz (balasnya)
Akhirnya kami berdua pun pergi ke kelas, Semakin hari aku
dan Shinta semakin dekat. Tempat duduk ku di sebelah Shinta, dan di belakang
kami Rio dan Aris. Akhir-Akhir ini, Rio sering bercanda dengan Shinta. Entah
kenapa aku merasa sakit, nyesek.
Suatu malam, Aku smsan dengan shinta. Kami main Game.
Suatu saat giliranku mendapat pertanyaan dari Shinta, dia bertanya padaku siapa
orang yang aku suka. Aku pun ragu-ragu membalasnya karena aku malu. Akhirnya
aku pun membalas nya dan menjawab nya dengan keberanianku. Aku menajwab dengan
apa yang aku rasakan selama ini, dia Adalah Rio, laki-laki yang ku suka.
Setelah malam itu berlalu, semakin hari Rio semakin dekat
dengan shinta, Sahabatku. Meskipun aku merasa sakit, aku tak pernah
memperlihatkan nya. Sakit, melihat mereka sekarang sedekat itu. Aku tau, aku
bukan siapa-siapa Rio, tak berhak aku melarang nya.
Suatu ketika malam-malam, aku mengajak Shinta bermain
game lagi. Kali ini aku berkesempatan untuk menanyakan sesuatu pada shinta, aku
pun memanfaatkan kejadian itu. Aku bertanya pada Shinta, apa orang yang pernah
ia bilang padaku bahwa ia suka itu adalah Rio, dan ternyata betapa kagetnya
raga ini mendengar pernyataan Shinta bahwa semua itu benar.
Aku marah pada Shinta, bukan marah karena merasa
tersaingi, tapi marah karena Shinta jujur sekarang, kenapa gak waktu itu. Waktu
main game ini juga. Kenapa gak bilang, kenapa Shinta harus jujur waktu
perasaanku pada Rio semakin dalam. Kenapa?
Tuhan,
haruskah ku buang jauh perasaan ini? Haruskah ku berlari meninggalkan perasaan
yang belum pernah ku dapatkan? Apakah ini memang sudah jalanmu? Tuhan, jika ini
jalanmu bantu aku membuang perasaan ku padanya. Jangan biarkan dua orang
sahabat bertengkar hanya karena satu orang laki-laki yang belum tentu menjadi
jodohnya kelak. Haruskah aku menghilangkan perasaan ini,menenggelamkan semua
cerita yang pernah terjadi antara kau dan aku. Aku paham betul bagaimana
rasanya jatuh cinta, Tapi bagaimana jika
rasanya cinta menjatuhkan kita, menjatuhkan besarnya suatu harapan pada
seseorang, membiarkan nya membekas dalam relung hati ini, dan menjadi suatu
kenangan yang tak akan terlupakan. Cinta dan sahabat, dua kata yang memiliki
arti indah tersendiri setiap kata itu, Cinta, mengajarkan tulusnya rasa sayang
dari hati ke hati, memberi warna cerah dan gelap seperti suka dan duka dalam
sebuah perjalanan cinta, sahabat adalah orang yang begitu berarti sesudah
jkeluarga, sahabat akan selalu ada di samping kita, memberi sebuah perhatian
besar yang jarang orang bisa mendapatkannya. Sahabat dan cinta, tentu sahabat
lebih besar harganya daripada cinta terhadap orang yang belum tentu bahwa dia
adalah jodoh kita kelak. Cinta, izinkan aku mengalah untuk sahabatku, izinkan
sahabatku bahagia bersamanya. Izinkan aku membuka hati ini untuk orang lain.
this is based on true story.. am i right? :x
ReplyDeletemany typo(s) and is collage like that? it's like school i think..
finish.. i mean to bully you.. but... ah forget this :d keep writing and i hope your short-story will be better soon!!
#youknowhoiam XD
haha.. without I say, you know that story is true .. cuma di tambah2 lebay nya aja, b.inggris nya misal, aku kan masih belum pinter b.inggris disitu mah udah sok make b.inggris :D
ReplyDeleteDon't bully me please(?) wkwk
Aaaaa thankyouuu <3 #biglove #Iknowhoyouare